Merdekakan Dirimu Dengan Ilmu



بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم




اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk). (QS Al-Alaq, 96:1)


Merdekakan Dirimu Dengan Ilmu

Inilah penggalan perintah pertama yang diterima Nabi saw. Perintah ini menjadi fajar kelahiran ilmu pengetahuan dan semangat mencari ilmu bagi seluruh umat manusia. Nabi saw sama sekali tidak bisa membaca dan menulis (al-Ummî). Dari seorang Nabi yang al-ummi ini justeru lahir berbagai bacaan dan tulisan yang sarat pengetahuan, hikmah dan tuntunan yang demikian hebatnya mempengaruhi pola pikir, sikap dan tindakan manusia.


Masyhur ujaran beliau saw: Menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap muslim. Tuntutlah ilmu sekalipun di negeri Cina. Awal abad ke-7 M nasehat ini terucap, satu abad kemudian yaitu abad ke-8 kaum muslimin merajai ilmu pengetahuan di seluruh dunia. Seorang penulis barat menulis: “Dari abad ke-8 hingga akhir abad ke-14, ilmu pengetahuan Arab (Islam) barangkali adalah sains yang paling maju di dunia, yang jauh melampaui Barat dan Cina.” (Toby.E.Huff, the Rise of Early Modern Science).


Al-Ummi juga dapat dilihat dari sudut pandang lain, selain tidak dapat membaca dan menulis yaitu: keperawanan (virginitas). Nabi yang ummi tidak punya akses sama sekali untuk meraih ilmu melalui membaca dan menulis huruf-huruf karya manusia. Hati beliau suci (virgin) dari sentuhan ilmu manusia. Seperti Maryam yang suci rahimnya lalu Allah meniupkan Kalimat-Nya melalui Jibril as ke rahim itu maka lahirlah al-Masih ‘Isa as tanpa ayah. Hati Nabi saw yang suci dari pengajaran manusia ketika dihembuskan kalam Allah ke dalam hati itu melalui Jibril as maka lahirlah al-Quran. Hal ini menjadi landasan bagi Ilmu Ladunni dalam tradisi keilmuan kaum muslimin. Ketika seseorang membersihkan hati dari pengaruh jiwa rendah melalui riyâdhah dan menghadapkan hati kepada Allah Ta’ala melalui murâqabah maka Allah al-‘Alîm akan melimpahkan pada hati itu ilmu dari lautan ilmu-Nya. Nabi saw memberi isyarat tentang hal ini,


” Barang siapa mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui maka Allah akan mewariskan padanya ilmu yang tidak ia ketahui.” Sabdanya lagi,” Barang siapa mengikhlaskan amal hanya karena Allah, selama empat puluh hari Allah akan memancarkan hikmah dari hatinya yang mengalir ke lisannya.”


Belajar kepada manusia dengan cara menghitamkan kertas dengan tinta. Belajar kepada Allah dengan cara memutihkan hati dari hitamnya noda dosa. Kedua cara belajar ini khas pada kaum mukmin. Berbeda dengan kebanyakan ilmuwan barat, ilmuwan muslim memandang alam sebagai sesuatu yang suci. Alam adalah ayat-ayat Allah yang harus dibaca dengan penuh khidmat seperti al-Quran adalah ayat-ayat Allah yang harus dibaca dengan penuh khidmat. Secara etimologis Ayat (tanda) bererti al-alâmah al-zhâhirah (identiti yang sangat jelas), artinya ketika seseorang melihat ayat maka haruslah sejurus kemudian ia melihat juga sang pemilik ayat itu.


فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

“… maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah…”

(QS. al-Baqarah:115)


Bila kita melihat alam semesta, sejurus kemudian kita tidak melihat wajah Allah maka pada hakikatnya kita buta meskipun melihat. Tidak ada kebutaan yang lebih dahsyat dibandingkan kebutaan jenis ini. Penyebabnya adalah kebodohan, yaitu kosongnya hati dari cahaya ilmu. Hijab terbesar antara hamba dengan Tuhannya adalah kebodohan. Kebodohan membuat orang terjajah tanpa bisa merdeka, terjajah oleh kegelapan hawa nafsu, dunia dan setan, yang menyebabkan ia gagal meraih kebahagiaan.


Satu-satunya cara untuk merdeka adalah usir kebodohan dengan senjata ilmu pengetahuan.



Mengapa kita membina diri kita?


بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم





Siapa lagi yang akan membina diri kita kalau bukan kita sendiri?

Usaha tarbiyyah(pembinaan) diri yang diberikan seorang Muslim/Muslimah kepada dirinya adalah untuk membentuk keperibadian Islami yang sempurna di seluruh sisinya.


Pemahaman konsep tarbiyyah (pembinaan diri)

Pemahaman lain yang tidak tepat di mana proses pembinaan diri hanyalah untuk kanak-kanak atau para remaja, sedangkan pembinaan itu berterusan sehinggalah seseorang itu meninggal dunia. Malangnya, tidak ramai yang dapat membantu kita membina diri. Pembinaan diri juga mampu membina benteng pertahanan untuk melawan ragam fitnah dan pujuk rayu untuk gugur, malas, merasa takut dengan masa depan dan berputus asa dengan realiti sekarang.

Namun ramai yang tidak ambil endah pada pembinaan diri ini. Di antaranya adalah kerana ketidaktahuan pada dalil-dalil Al-Quran dan as-sunnah yang mengajak kepada Tarbiyyah Dzatiyah(kepentingan) , kelebihan dan pahala amalan-amalan salih, hasil-hasil positive pada diri sendiri di dunia dan di akhirat, dan betapa syaitan tidak pernah berhenti berusaha menjauhkan kita dari melakukan ketaatan dan kebaikan. Ramai juga yang terikat dengan dunia sehingga dunia dijadikan tujuan hidupnya, contohnya pangkat dan pernikahan, sehingga lupa pada pembinaan dirinya, pembersihan, pembaikan dan pengarahan dirinya. Hasilnya, sebahagian besar kehidupannya sia-sia belaka dan lupa dasr tujuannya keberadaannya di dunia untuk beribadah kepada Allah, taat kepadaNya, bersungguh-sungguh di jalanNya dan berdakwah(mengajak) kepadaNya.

Oleh itu wajiblah kita sendiri yang mengambil inisiatif untuk membina dan mengarah diri kita sendiri. Di antara masalah yang ada pada diri kita apabila hendak membina diri ialah tarikan antara kehendak hati kita. Ketika kita hendak berubah akan terdapat bisikan-bisikan yang akan melambatkan proses tersebut, menangguhkan keinginan untuk berubah, menunggu-nunggu hari yang paling ideal untuk dia berubah. Padahal, hari berganti hari, namun ia tidak melakukan perubahan dan kebaikan.

Maka hidup dalam linkungan positive akan membantu seseorang untuk istiqamah, peduli dengan tarbiyyah(pembinaan) dan tazkiyah(penyucian) dirinya. Hal ini demikian mampu membantu usaha tarbiyyah(pembinaan) diri bagi seseorang Muslim/Muslimah untuk membentuk keperibadian Islami yang sempurna.

Di Atas Sajadah Cinta



بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم




Penulis: Habiburrahman El Shirazy

KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.

Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.

Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.

Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,

fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.

qad aflaha man zakkaaha.

wa qad khaaba man dassaaha

…”

(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,

sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya

…)

Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?

Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.

***

Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.

Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,

in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si

musyriqun bi dhau’

wal hubb al wariq

…”

(jika aku pencinta malam maka

gelasku memancarkan cahaya

dan cinta yang mekar

…)

***

Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”

“Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”

“Bagaimana, kau terima atau…?”

“Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”

“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”

“Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”

“Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”

“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”

***

Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.

“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.

“Be…benarkah?”

“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”

“Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”

Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,

“Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?”

Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.

***

Keesokan harinya.

Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.

Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.

“Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”

Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,

“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”

Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,

Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”

Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,

“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”

Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.

“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”

“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”

“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.

“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”

“Aku mau melanjutkan perjalananku!”

Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.

“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”

Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.

“Tidak usah.”

“Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”

Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.

***

Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.

Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,

“Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”

Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,

“Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”

Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.

***

Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.

“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.

Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.

Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.

“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”

Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,

“Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”

***

Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.

Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,

“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”

Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.

***

Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.

Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,

Kepada Zahid,

Assalamu’alaikum

Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.

Zahid,

Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.

Wassalam

Afirah

===============================================================

Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.

Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :

Kepada Afirah,

Salamullahi’alaiki,

Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.

Afirah,

Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )

Afirah,

Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :

“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).”

Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.

Afirah,

Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.

Wassalam,

Zahid

===============================================================

Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.

Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.

Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :

Kepada Zahid,

Assalamu’alaikum,

Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.

Wassalam,

Afirah

===============================================================

Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.


--: Mahar Perkahwinan Adam A.S. :--


بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم





Pergaulan hidup adalah persahabatan! Dan pergaulan antara lelaki dengan wanita akan berubah menjadi perkahwinan apabila disertai dengan mahar. Dan kini apakah bentuk mahar yang harus diberikan? Itulah yang sedang difikirkan Adam. Untuk keluar dari keraguan, Adam A.S berseru:

“Ilahi, Rabbi! Apakah gerangan yang akan kuberikan kepadanya? Emaskah, intankah, perak atau permata?”.


“Bukan!” kata Tuhan.

“Apakah hamba akan berpuasa atau solat atau bertasbih untuk-Mu sebagai maharnya?” tanya Adam A.S dengan penuh pengharapan.

“Bukan!” tegas suara Ghaib.

Adam diam, mententeramkan jiwanya. Kemudian bermohon dengan tekun:

“Kalau begitu tunjukanlah hamba-Mu jalan keluar!”.

Allah SWT. berfirman:

“Mahar Hawa ialah selawat sepuluh kali atas Nabi-Ku, Nabi yang bakal Ku-Bangkit yang membawa pernyataan dari sifat-sifat-Ku: Muhammad, cincin permata dari para anbiya’ dan penutup serta penghulu segala Rasul. Ucapkanlah sepuluh kali!”.

Adam A.S merasa lega. Ia mengucapkan sepuluh kali salawat ke atas Nabi Muhammad S.A.W. sebagai mahar kepada isterinya. Suatu mahar yang bernilai spiritual, kerana Nabi Muhammad S.A.W adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Hawa mendengarkannya dan menerimanya sebagai Mahar.

“Hai Adam, kini Aku halalkan Hawa bagimu”, perintah Allah, “dan dapatlah ia sebagai isterimu!”.

Adam A.S bersyukur lalu memasuki isterinya dengan ucapan salam. Hawa menyambutnya dengan segala keterbukaan dan cinta kasih yang seimbang.

Allah SWT. berfirman kepada mereka:

“Hai Adam, diamlah engkau bersama isterimu di dalam syurga dan makanlah (serta nikmatilah) apa saja yang kamu berdua ingini, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini kerana (apabila mendekatinya) kamu berdua akan menjadi zalim”.

(Al-A’raaf: 19). Dengan pernikahan ini Adam A.S tidak lagi merasa kesepian di dalam syurga. Inilah percintaan dan pernikahan yang pertama dalam sejarah umat manusia, dan berlangsung di dalam syurga yang penuh kenikmatan. Iaitu sebuah pernikahan agung yang dihadiri oleh para bidadari, jin dan disaksikan oleh para malaikat.

Peristiwa pernikahan Adam dan Hawa terjadi pada hari Jumaat. Entah berapa lama keduanya berdiam di syurga, hanya Allah SWT yang tahu. Lalu keduanya diperintahkan turun ke bumi. Turun ke bumi untuk menyebar luaskan keturunan yang akan mengabdi kepada Allah S.W.T dengan janji bahawa syurga itu tetap tersedia di hari kemudian bagi hamba-hamba yang beriman dan beramal soleh.

Firman Allah SWT.:

“Kami berfirman: Turunlah kamu dari syurga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, nescaya tidak ada kekhuatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”


----:-[ Tamatlah sebuah kisah Cinta antara Adam A.S dan Hawa ]-:---


Sekuntum Cinta Pengantin Syurga


بِسْــــــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم




“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).


Apabila seorang kekasih telah singgah di hati, fikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnet. Rasanya selalu ingin bertemu meskipun hanya sebentar. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.Begitulah hebatnya pesona cinta...

Daku ungkapkan sebuah kisah yan berlaku di kota Kufah. Tinggallah seorang pemuda tampan yang zuhud dan tekun beribadah. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melalui sebuah perkampungan kaum An-Nakha’. Di sana takdir Allah dia telah bertemu dengan seorang gadis cantik yang telah berjaya memikat hatinya...

Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di hujung lidah. Maka jalinan cinta pun tersimpul kuat.

Benih-benih cinta itu bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejap, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.

Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan… Persis seperti iman,termetri di dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amalan.

Begitulah dengan si pemuda ini, dia berfikir cintanya harus diselamatkan!Biar ia berada di dalam bingkai syariat Allah swt. Maka dihantar utusan untuk meminang gadis tersebut tetapi malangnya pinangan itu terpaksa ditolak kerana gadis itu bakal di jodohkan dengan sepupunya sendiri.

Cinta itu adalah fitrah kejadian Allah pada setiap hambanya. Si gadis yang hatinya juga amat mencintai kekasihnya telah mencari jalan untuk bersama-sama dengan kekasihnya itu walau dengan apa cara sekalipun. Ia sanggub mengikuti kemana sahaja asalkan dapat bersama dengan pemuda tercinta.. Maka si gadis mengutus seorang khadamnya untuk menyampaikan sepucuk surat bagi meluahkan isi hati dan perancangannya kepada pemuda tersebut:

Setelah membaca isi surat itu pemuda itu pun berpesan kepada khadam yang membawa surat tersebut..

Sesungguhnya aku tidak akan menerima cadangan ini, biar apapun yang berlaku..Sesungguhnya aku lebih takut akan kemurkaan Allah dan azab api neraka.

Pulanglah khadam tersebut dan menyampaikan pesan dari pemuda tersebut kepada kekasihnya.Pabila di dengar oleh gadis tersebut hati kecilnya terus berkata:

“Sesungguhnya selama ini aku belum pernah bertemu dengan seorang yang begitu zuhud dan terlalu takut kepada Allah swt". Lantaran itulah si gadis juga bertekad untuk terus mengabdikan diri kepada Allah dan mencurahkan seluruh rasa kasihnya pada Penciptanya yang Maha Agung. Biarlah di dunia ini dia hidup bersendirian tetapi ia amat yakin di Akhirat kelak akan ada teman dan kekasih yang disediakan oleh Allah. sejak itu juga dia amat tekun beribadat, siang dan malam badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.

Bila kerinduan kepada kekasih memuncak, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Bersembahyang ia dalam kegelapan malam lalu menadah tangan, memohon kepada Allah agar dia terus diberikan kekuatan dalam menghadapi cintanya yang tak kesampaian. Kerana kerinduannya yang mendalam itu a akhirnya Allah memanggil ke hadrat-Nya. Gadis itu meninggal dunia dengan membawa besertanya cinta yang tulus dan suci. .

Pada suatu malam, Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.

“Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?” Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.

Gadis kekasihnya itu menjawab dengan untaian syair:

Kasih…
cinta yang terindah adalah mencintaimu,
sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.
Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu
burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu

Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”

Kekasihnya menjawab dengan syairnya:

Aku berada dalam kenikmatan
dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir
berada dalam syurga abadi yang dijaga
oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa
yang akan menunggu kedatanganmu,


wahai kekasih…

“Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu!”

Justeru pemuda itu berkata dan berseru:
“Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu."
dan...bilakah aku dapat melihatmu kembali?” Tanya si pemuda menegaskan

“Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari,” Jawab kekasihnya.

Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mematikan pemuda tadi. Allah telah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat mengecapinya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi sehingga menjadi PENGANTIN DI SYURGA.

Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta memerlukan satu peraturan peradaban dan keterbatasan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat.Keturunannya akan selamat dan yang paling penting agamanya akan selamat....